Back

Startup yang Fokus ke Agribisnis

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, pertumbuhan startup atau usaha berbasis teknologi & website juga semakin melesat. Tidak terkecuali startup agribisnis yang fokus menggabungkan teknologi dengan pertanian. Walau tidak terlalu populer di kalangan masyarakat, startup ini memiliki peran penting dalam menumbuhkan kembali sektor pertanian.

Startup agribisnis berperan sebagai sarana edukasi kepada para petani, jembatan antara petani dan konsumennya secara langsung, serta menyediakan informasi terkait harga dari hasil pertanian.

Berikut 4 startup yang fokus ke agribisnis.

1. Petani (8villages)

Startup yang fokus pada media aplikasi perangkat lunak ini telah berdiri sejak 2011 silam. Petani adalah aplikasi yang dikembangkan oleh 8villages, yaitu sebagai forum jual-beli online dan edukasi pertanian.

Melalui aplikasi ini, petani bisa saling berbagi informasi tentang proses pertanian, jual beli bibit atau kebutuhan pertanian, serta harga komoditas pasar. Selain itu, petani pun bisa mendapatkan edukasi dan penyuluhan dari para pakar pertanian.

Selain menggunakan aplikasi, para petani yang berada di pedesaan bisa menggunakan fasilitas SMS dan MMS untuk berkomunikasi secara langsung.

2. Lima Kilo

Pada November 2015, salah satu tim dari komunitas Code4Nation membentuk startup agribisnis yang diberi nama Lima Kilo. Tujuan mereka membangun startup ini adalah untuk membantu petani di Indonesia menjual hasil komoditas mereka dengan baik, serta agar hasil komoditas mereka bisa langsung dibeli oleh masyarakat tanpa bantuan pihak ketiga.

Lima Kilo lebih memfokuskan bisnis pada distribusi langsung sektor pertanian, sehingga masyarakat akan mendapatkan harga langsung dari petani dan tetap menjaga kestabilan harga komoditas.

3. TaniHub

Sesuai dengan tagline-nya, TaniHub memberikan fasilitas ecommerce bagi para petani sehingga penjualan komoditas bisa langsung sampai ke konsumen. Dilansir dari halaman Facebooknya, Tanihub memiliki 8.500 lebih petani dan peternak yang telah tergabung dan terverifikasi.

Produk yang bisa dijual petani di startup yang berkantor di daerah Jakarta Selatan ini beraneka ragam, seperti buah-buahan, sayuran, dan hasil peternakan. Selain itu, TaniHub memiliki mitra pasar swalayan dan restoran yang sudah banyak tersebar di Indonesia.

TaniHub sendiri berdiri pada November 2015 dengan sistem transaksi yang masih konvensional. Pada November 2016, barulah berkembang menjadi e-commerce, dan tahun lalu omzet startup agribisnis ini mencapai Rp1 milyar perbulan.

4. Pantau Harga

Berbeda dengan startup sebelumnya, Pantau Harga yang diluncurkan pada tahun 2015 menawarkan informasi harga komoditas pertanian secara lebih detail. Melalui aplikasinya, kita bisa mengetahui harga komoditas sesuai dengan lokasi terdekat.

Kita juga bisa mengirimkan harga ke aplikasi ini sesuai dengan pasar atau lokasi terdekat. Tentu saja para petani bisa mendaftarkan komoditasnya melalui aplikasi ini dengan mendaftar terlebih dahulu.

Itulah startup agribisnis yang menggabungkan sektor pertanian dan teknologi untuk menyejahterakan petani di Indonesia. Fokus mereka untuk sektor pertanian adalah pada sistem distribusi, informasi harga, dan edukasi kepada petani agar lebih produktif.

Jangan lupa juga untuk berbagi inspirasi dengan membagikan artikel ini ke teman dan rekan. Semoga bermanfaat.

Post a Comment