Back

Startup Syariah yang Halal dan Keren

Sekarang banyak sekali bermunculan startup baru di Indonesia bahkan dunia. Startupstartup tersebut muncul di bidang apa saja, entah itu jasa, finance, e-commerce, publisher dan lain sebagainya. Semakin maraknya startup seakan mendorong orang-orang untuk berinovasi mencari solusi atau jalan keluar dari kebutuhan mereka, dan pada akhirnya mendirikan startup yang selain menguntungkan, juga berguna bagi khalayak.  Hanya saja dari sekian banyak startup yang muncul, hanya sedikit yang bisa bertahan dan berkembang, sisanya harus jalan di tempat atau terpaksa tutup

Startup Syariah

Dewasa ini, banyak inovasi-inovasi bisnis yang berlandaskan syariah bermunculan di Indonesia, bahkan dunia. Orang-orang pun mulai sadar bahwa transaksi di kehidupan sehari-hari selain menguntungkan, harus tetap syar’i, sesuai dengan aturan Al-qur’an dan hadis. Mengikuti euforia startup yang kian menjamur, praktisi di bidang syariah tak mau ketinggalan. Mereka ingin ambil bagian dengan mendirikan startup yang tetap mengedepankan prinsip syariah untuk transaksi dan kegiatan operasionalnya, jadi transaksi-transaksinya terjamin halal. Selain itu, transaksi syariah juga jelas dan tidak mengandung unsur gharar.

Transaksi Berdasarkan Prinsip Syariah

Sebenarnya startup syariah bukan hanya tentang embel-embel syariah saja, tetapi pelaksanaan bisnisnya pun harus berlandaskan syariah, termasuk transaksi-transaksinya tidak menyalahi aturan yang sudah dijelaskan di Al-Qur’an dan hadis. Di Indonesia sendiri, kita dapat menjadikan fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia atau DSN MUI sebagai dasar dalam melakukan transaksi syariah. Produk DSN MUI dinilai sudah relevan dijadikan dasar transaksi di zaman modern ini.

Dukungan dari Pemodal dan Pemakai

Perlu dukungan dari pemilik modal, katakanlah bank syariah, untuk mendorong perkembangan startup dengan prinsip syariah ini semakin berjaya. Tentunya mekanisme pemodalan pun harus berlandaskan syariah. Selain pemodal, dukungan terbesar yang dibutuhkan adalah pemakai, yaitu umat Islam sendiri.

Media Tarbiyah

Setiap muslim punya kewajiban berdakwah, tentunya dengan cara yang beragam. Tak terkecuali pelaku bisnis. Pelaku bisnis syariah hendaknya tetap menyisipkan tarbiyah dalam setiap transaksi dan operasionalnya, sehingga akan tercipta media tarbiyah yang tidak hanya mencari keuntungan saja, melainkan memberikan manfaat pada orang banyak.

Halal.ad

Sebagai contoh, startup berprinsip syariah yang semakin diminati di kalangan publisher adalah halal.ad. Bisa dikatakan halal.ad sebagai Adsense-nya umat Islam. Bedanya dengan Adsense, iklan yang ditampilkan adalah iklan-iklan halal atau yang tidak menyalahi syariat Islam. Tidak seperti Adsense yang seakan menerima semua iklan, bahkan iklan dewasa yang tidak pantas ditampilkan.

Praktisi syariah selain mencari keuntungan, bisa dikatakan berjihad dengan memberikan tarbiyah tentang syariah. Hal itu pula yang dilakukan halal.ad karena mereka juga memberikan peringatan agar menjadi publisher yang jujur dan bermanfaat. Startup syariah yang bermarkas di Denmark ini sudah terbukti membayar publisher-nya, jadi tidak ada keragu-raguan lagi. Jika makin banyak peminatnya dan makin berkembang, halal.ad ini bisa menyaingi Adsense.

Sebetulnya di Indonesia sendiri banyak sekali startup yang berlandaskan syariah, seperti: iGrow, Zahir, Yufid, Help Sharia, dan masih banyak lagi yang memerlukan dukungan dari umat Islam. Dukungan paling sederhana yang bisa Anda lakukan adalah menginformasikan eksistensi mereka pada rekan-rekan sejawat, agar semakin banyak orang yang tahu mengenai startup syariah bahkan tergerak untuk ikut bekerja sama. Caranya dengan membagikan artikel ini ke media-media sosial yang Anda miliki. Yuk, klik ‘share’!

Post a Comment